Article Detail
TRIP KEBHINEKAAN SMP PENDOWO NGABLAK dan SMP TARAKANITA MAGELANG
Siang itu terik sinar matahari menembus tubuh para siswa SMP Pendowo Ngablak dan SMP Tarakanita, Magelang saat menjalani trip kebhinekaan. Sekitar pukul 12.30 WIB di hari Selasa, 23 Juli 2019 sejumlah 200 siswa berkunjung di Mendut Buddhist Monastery. Ditemani para pendamping dari masing-masing sekolah, para siswa diajak untuk mengenal ajaran agama Budha. Dalam sambutan Kepala SMP Pendowo, Ngablak Bapak Theodorus Edi Pramono menyampaikan bahwa anak-anak dikenalkan perbedaan, tentu dengan mengenal harapannya dapat menghargai perbedaan tersebut.
Sambutan hangat diberikan oleh Bhante Jayasilo selaku anggota komunitas Mendut Buddhist Monastery. Bhante Jayasilo menyampaikan bahwa Mendut Buddhist Monastery sebuah Wihara yang berada di daerah Mendut. Saat ini dihuni oleh 4 Banthe (Bhikkhu) dan 1 Samanera (Bhikkhu Muda). Wihara ini mulai berdiri pada tahun 1976. Menurut Bhante Jayasilo, Wihara mendut awalnya tidak sebesar ini. Sebagai tanda awalnya Wihara mendut adalah sebuah tugu berada di depan Wihara. Tugu itu adalah simbol awal berdirinya Wihara, kemudian melebar hingga belakang.
Bhante Jayasilo melanjutkan bahwa Wihara mendut tidak sekedar bangunan tetapi mengandung banyak arti filosofi kehidupan. Ketika pengunjung masuk di pintu awal didepan sampai di belakang, semua memiliki filosofi kehidupan yang ditemukan dalam kehidupan Budha Gautama sendiri. Ada sebuah patung pertapa yang meyiksa diri. Patung itu menggambarkan pertapa yang berpati keras selama 6 tahun dengan makan satu butir nasi setiap hari, pertapa bersikeras menyentuh perutnya hingga sampai mengenai tulang belakangnya. Gambaran patung itu ada 2 nilai yang disampaikan yaitu kesenangan dan penderitaan. Yang senang maunya senang terus, tergila gila dengan kesenangan sementara yang menderita menyukai penderitaan hingga menyiksa diri. Banthe Jayasilo mencontohkan bahwa kita memiliki smartphone, mengapa lebih asik dengan smartphone. Ketika bangun tidur yang dicari smartphone dan ketika smartphone hilang pasti menjadi sedih karena kehilangan. Gambaran yang disampaikan melalui patung tersebut adalah ketika memiliki handphone, jangan terlalu tergila-gila dan ketika hilang, jangan terlalu sedih. Ajaran ini memberikan keseimbangan antara kesenangan dan penderitaan.
Mengakhiri sambutannya, Bhante Jayasilo menyampaikan terima kasih atas kunjungannya dan mempersilahkan kepada para siswa untuk melihat-lihat semua yang ada di Wihara ini. Sebelum melihat-lihat di area Wihara disampaikan ada larangan tidak boleh membunuh binatang apapun di area Wihara dan diminta untuk menjaga kebersihannya dengan menaruh sampah di tempatnya. Setelah itu para siswa diberikan kesempatan mengeksplorasi semua yang ada di lokasi Wihara. Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok diminta untuk mencari segala hal yang menurutnya unik dan menarik yang nantinya ingin diketahui berkaitan dengan ajaran agama Budha melalui simbol-simbol ditemukan. Selanjutnya diberikan kesempatan ditanyakan dalam forum dialog yang disiapkan oleh Bapak Wahyu Utomo selaku Sekretaris Wihara Mendut.
Sepulang dari kunjungan ini, para siswa diminta membuat refleksi yang nantinya akan dibukukan dan diminta membuat membuat sebuah video pendek yang menggambarkan toleransi beragama. Tentunya dari pengalaman ini, para siswa diajari untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Hal ini seiring dengan penanaman pendidikan karakter tarakanita dalam hal community (semangat membangun persaudaraan). Keberbedaan bukan menjadi pemecahbelah melainkan memperkaya satu sama lain yang akhirnya terbangun kepedulian terhadap sesama yang mengindari tumbuhnya sikap individualistis dan eksklusivisme dikalangan kelompok-kelompok sosial.
Comments
-
there are no comments yet
Leave a comment